Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Mengapa Manusia Harus Menolak Proyek Gheotermal Di Pulau Flores

Mengapa Manusia Harus Menolak Proyek Gheotermal Di Pulau Flores

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Jum, 20 Jun 2025
  • visibility 375
  • comment 0 komentar

KOMPAS Flores.COM – Beberapa tahun terakhir ini, selain didaruratkan oleh masalah kemiskinan, stunting, perdagangan manusia, bunuh diri, kekerasan seksual, korupsi, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, masyarakat di Flores, NTT juga harus menghadapi bencana alam seperti letusan gunung berapi di sejumlah titik, longsor, banjir, abrasi, gagal panen dan kekeringan.

Belum selesai masalah pengalihfungsian hutan lindung Hutan Bowosie, Labuan Bajo, Manggarai Barat, menjadi locus bisnis ekonomi pariwisata, masyarakat Flores dikejutkan oleh masuknya investor yang ingin mengeruk isi bumi di beberapa titik.

Floresa (25/01/2025) menyatakan bahwa di sepanjang Flores hingga Pulau Lembata di bagian timur saja diidentifikasi oleh pemerintah terdapat 16 titik proyek yakni Wae Sano, Ulumbu, Wae Pesi, Gou-Inelika, Mengeruda, Mataloko, Komandaru, Detusoko, Sokoria, Jopu, Lesugolo, Oka Ile Ange, Atadei, Bukapiting, Roma-Ujelewung dan Oyang Barang. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, seperti ditulis Floresa, Pulau Flores memiliki total potensi panas bumi 902 Megawatt, atau 65 persen dari total kapasitas di NTT.

Pada Kamis (05/06) lalu, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara memberitakan bahwa ribuan masyarakat adat di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur turun ke jalan berdemonstrasi menolak rencana pembangunan Geothermal di Poco Leok, Kabupaten Manggarai. Sesungguhnya aksi demonstrasi penolakan terhadap eksploitasi geothermal ini menggema di Flores sejak 2011 lalu hingga sekarang.

Agenda kebijakan pengalihfungsian hutan lindung menjadi bisnis ekonomi pariwisata tentu saja menghancurkan kelestarian hutan dan mengancam kelangsungan hidup masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Inilah model kapitalisasi ruang hidup dan masyarakat penghuninya di bawah komando kebijakan akumulasi melalui perampasan, perampasan dan permainan informasi di ruang publik digital, yang darinya timbul segala kekerasan, penindasan, pembisuan, reitifikasi, dan eksploitasi secara membabi buta terhadap masyarakat adat.

Kapitalisasi Ruang Hidup

Prinsip liberalisasi basar barangkali merupakan gagasan ekonomi yang paling mengkhawatirkan sejak 1970-an sampai hari ini. Hanya beberapa negara yang mengatakan dirinya anti-liberalisasi pasar, seperti China, negara bekas Uni Soviet dan sekutunya, negara-negara Eropa Timur, dan Indonesia salah satunya, ternyata penganut rahasia, seperti pembunuh berdarah dingin.

Budi Hardiman (2018: 126) mengatakan, “Prinsip pembebasan pasar mendorong ekspansi pasar ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak tersentuh komersialisasi, seperti seni, agama, pendidikan, pelayanan kesehatan, dst.”

Prinsip liberalisasi pasar tidak terikat pada wilayah geografis dan demografis tertentu, tetapi melampauinya. Liberalisai menjinakkan dan merombak seluruh tatanan sosial ekonomi, politik, tradisi, agama dan kebudayaan. Liberalisasi pasar mengandaikan adanya wilayah atau ruang dan waktu yang dikuasai, diatur dan dikendalikan oleh kaum kapitalis. Pembebasan pasar menimbulkan dan mereproduksi risiko dalam kelompok masyarakat yang tidak bermodal dan tidak punya akses terhadap alat-alat produksi.

Risiko-risiko lama – bencana, kelaparan, kemiskinan, pengangguran, kesepian masa tua, dan kematian – tidak tersembuhkan, malah diperhadapkan dengan risiko-risiko baru yang melampaui kesanggupan dan kewaspadaan.

Kaum miskin dan kelompok rentan sangat rawan diperdagangkan di dunia pasar – sebab pasar cenderung mengakumulasi segalanya sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan – terutama ketika tanah-tanah sudah dijual ke kaum kapitalis. Hal ini terbukti bila kita menyaksikan bangunan-bangunan di kota-kota dan di pabrik-pabrik selalu dilengkapi dengan tembok tinggi-tinggi, penjagaan yang ketat, CCTV lengkap, dan seterusnya.

Ketika kaum kapitalis merampas tempat/ruang, membangun tembok tinggi-tinggi, mempekerjakan saptam, menetapkan aturan kerja dan bersekongkol dengan aparatur negara, siapa lagi yang dapat mengakses ruang itu? Kalau kita sebagai orang asing/baru mau memasuki ruang privat itu, kita wajib membayar dan mengikuti aturan permainannya.

Di dalam ruang privat itu, atau dalam istilah Henri Lefebvre dalam bukunya The Productionof Space (1991) sebagai Ruang Abstrak – kita atau siapa pun yang berjalan mengitari ruang abstrak itu tidak akan tahu apa yang terjadi di dalamnya. Ruang abstrak seolah-olah menyediakan, memfasilitasi, menjustifikasi dan meningkatkan derajat eksploitasi itu. Aksi-aksi kekerasan di dalamnya. Bukankah justifikasi adalah sebuah kekerasan juga? (F. Budi Hardiman, 2018: 130).

Ruang abstrak adalah alat kekuasan, atau simbol kekuasaan—para penjual tenaga kerja di dalamnya tidak lagi dikontrol oleh pemilik kapital atau manajer atau pengaman, tetapi oleh ruang abstrak itu sendiri. Dengan demikian, ruang abstrak juga bukan merupakan hanya alat atau simbol kekuasaan yang mewakili pemilik ruang, melainkan adalah penguasa, pengendali, pengontrol, pengambil keputusan dan pengawas. Lagipula di dalam ruang abstrak, praktik kekerasan, dan kejahatan tidak dapat dijangkau oleh media massa, atau pengawasan hukum, ataupun dapat diawasi hukum, tetapi hukum diawasi oleh uang, kapital, kuasa.

Para kapitalis meyakini diri bahwa tindakan kekerasan yang mereka lakukan sebagai tindakan penyelamatan agar para pekerja dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Para kapitalis juga yakin bahwa dengan tindakan-tindakan seperti itu, selain membuat mereka meraup keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mereka pun telah berhasil menyelamatkan para pekerja dari kemiskinan, kelaparan dan ancaman kematian.

Kekerasan di dalam ruang abstrak seolah-olah tidak hanya aspek justifikasi berperan, tetapi juga aspek motivasi liberalisasi pasar. Keduanya berkelindan: motivasi liberalisasi pasar menimbulkan justifikasi atas tindakan kekerasan, dan justfikasi atas tindakan kekerasan melanggengkan motivasi liberalisasi pasar.

Kita sepakat dengan Karl Marx dalam bukunya berjudul Capital A: Critique of Political Economy Volume I (1867, 1887, 1992: 519) bahwa “Taking the exchange of commodities as our basis, our first assumption was that capitalist and labourer met as free persons, as independent owners of commodities; the one possessing money and means of production, the other labour-power”.

John Cassidy (2025) menjelaskan: “capitalism survived the Great War, but it was about to meet its greatest test. During the Great Depression, economic output plunged, jobless rates skyrocketed, and political extremism flourished”. Menurut Cassidy, “the history of capitalism is usually told through accounts of depersonalized forces; competition, technology, colonialism, profit, and so on”.

Dengan demikian, proyek geothermal untuk kepentingan perluasan listrik, kemajuan dan peningkatan pendapatan daerah, dan buih-buih lainnya adalah bahasa yang digunakan kaum kolonial yang memperalat kekayaan masyarakat adat untuk kepentingan kompetisi bisnis pribadi dan keuntungan yang lebih dari proyek ini. (Bersambung)

*) Melki Deni, Mahasiswa Teologi Di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.

Penulis

Dari Flores Untuk Indonesia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur NTT Sambut Hangat Kajati Baru, Tekankan Sinergi Penegakan Hukum dan Pembangunan

    Gubernur NTT Sambut Hangat Kajati Baru, Tekankan Sinergi Penegakan Hukum dan Pembangunan

    • calendar_month Sen, 27 Okt 2025
    • account_circle Dion Damba
    • visibility 518
    • 0Komentar

    KUPANG, KOMPASFLORES.COM — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menyambut dengan hangat kedatangan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT yang baru, Roch Adi Wibowo, di ruang VIP Pemda Bandara El Tari, Kupang, Senin (27/10/2025) siang. Momen tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus simbol penguatan sinergi antara Pemerintah Provinsi NTT dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan […]

  • Kepala Desa Bangka Kuleng DiLaporkan Ke APH Terkait Penyimpangan Penggunaaan Dana Desa.

    Kepala Desa Bangka Kuleng DiLaporkan Ke APH Terkait Penyimpangan Penggunaaan Dana Desa.

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Borong,Kompasflores.com- warga Desa Bangka Kuleng,Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim),NTT menyuarakan kekecewaan terhadap kinerja Kepala Desa,Marsel Mohon,Jumat,(08/08/2025) Pasalnya,Mereka menilai banyak Polemiik terkait pengerjaan lapisan penetrasi (Lapen) di Dusun Laci, Desa Bangka Kuleng,kecamatan Lamba Leda selatan terus bergulir. Setelah warga mempersoalkan ketidaksesuaian mutu dan kualitas pengerjaan. Pantauan media ini di lapangan,Lapen yang dibiayai dari […]

  • Wartawan Kompasflores.com, Dion Damba Polisikan Akun Facebook Tony Cundawan

    Wartawan Kompasflores.com, Dion Damba Polisikan Akun Facebook Tony Cundawan

    • calendar_month Sen, 15 Des 2025
    • account_circle Tim Media kompasflores.com
    • visibility 455
    • 0Komentar

    Manggarai Timur, kompasflores.com — Pernyataan bernada penghinaan terhadap profesi jurnalis yang disebarkan melalui media sosial berbuntut serius. Dion Damba, jurnalis di Manggarai Timur, menegaskan siap menempuh jalur hukum secara pribadi atas sejumlah postingan akun Facebook Tony Cundawan yang dinilainya tidak hanya melecehkan profesi wartawan, tetapi juga telah menyerang dirinya secara personal. “Secara pribadi saya siap […]

  • Mari Kita Lawan Orang-Orang Oligarki-Kapitalis Dan Monster Kleptokrat-Feodal, Dan Tolaklah Proyek Geothermal.

    Mari Kita Lawan Orang-Orang Oligarki-Kapitalis Dan Monster Kleptokrat-Feodal, Dan Tolaklah Proyek Geothermal.

    • calendar_month Jum, 4 Jul 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 259
    • 0Komentar

    Kompasflores.Com-Dalam ruang abstrak para pekerja tidak hanya menjadi korban kekerasan kaum kapitalis, tetapi juga oleh sesamanya. Seolah-olah kekerasan itu wajib dipraktikkan dan diwariskan. Kekerasan oleh para pekerja atas para pekerja yang lain memiliki motif yang jelas, dan masih mempertimbangkan dimensi kemanusiaan. Akan tetapi kekerasan oleh kaum kapitalis atas para pekerja tidak dimaksudkan untuk mematikan para […]

  • Pembangunan Jalan Lapen di Desa Nanga Labang,Warga Sambut Antusias

    Pembangunan Jalan Lapen di Desa Nanga Labang,Warga Sambut Antusias

    • calendar_month Jum, 3 Okt 2025
    • account_circle Dion Damba
    • visibility 252
    • 0Komentar

    BORONG, KOMPASFLORES.COM – Kepala Desa Nanga Labang,Simplisius Adi Wagut mendapat apresiasi dari masyarakat terkait suksesnya pembangunan jalan Lapisan Penetrasi (Lapen) yang di anggarkan pada tahun 2025 ini. Salah seorang warga,NM (34) menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada Kepala Desa Nanga Labang yang sudah membangun jalan Lapen di desa. “Saya mengucapkan apresiasi dan terimakasih yang sebesar-besarnya […]

  • Tambang Tanpa Izin di Watu Mori: Dugaan Kejahatan Lingkungan di Balik Proyek Jalan Pemerintah

    Tambang Tanpa Izin di Watu Mori: Dugaan Kejahatan Lingkungan di Balik Proyek Jalan Pemerintah

    • calendar_month Sen, 30 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Manggarai Timur,Kompasflores.Com – Bekas pengoperasian Alat berat mengeruk bebatuan dari Sungai Wae Laku. Itu terjadi di akhir tahun 2024. Tersembunyi praktik tambang yang diduga ilegal, berlangsung nyaris tanpa pengawasan selama bertahun-tahun. PT Menara Armada Pratama (MAP), sebuah perusahaan kontraktor besar yang mengoperasikan aktivitas galian C di Desa Watu Mori, Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur, disebut-sebut […]

expand_less