Mahasiswa dan Fenomena Gaya Hidup Mewah: Antara Citra dan Kenyataan
- account_circle Irenius Putra
- calendar_month Sen, 2 Mar 2026
- visibility 130
- comment 0 komentar

Rikardus Elfrid Bagio Batas, Mahasiswa STIPAS St Sirilus Ruteng
Oleh: Rikardus Elfrid Bagio Batas
(Mahasiswa Semester II ST. Sirilus Ruteng)
Ketika matahari mulai menyingsing di kampus-kampus besar di Indonesia, tak sulit menemukan mahasiswa yang keluar dari mobil mewah, mengenakan pakaian bermerek, dan dengan percaya diri membayar makanan mahal di kedai-kedai kekinian. Mereka tampak percaya diri, bahkan seolah berasal dari keluarga mampu secara finansial. Namun di balik kemewahan itu, tersimpan kenyataan pahit: setiap rupiah yang mereka habiskan seringkali berasal dari jerih payah orang tua, yang bekerja dari pagi hingga malam, menahan lapar, atau mengorbankan kebutuhan dasar hanya untuk membiayai pendidikan anak.
Fenomena ini bukan lagi hal langka di perguruan tinggi. Banyak mahasiswa lebih memilih membangun citra “mewah” di mata teman-teman ketimbang hidup sesuai kondisi ekonomi keluarga. Smartphone terbaru, tas bermerek, hingga perjalanan mahal demi foto di media sosial, kini dianggap sebagai simbol kesuksesan. Padahal di balik layar, orang tua mungkin menanggung beban utang atau bekerja keras hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah yang semakin meningkat.
Saya pernah menyaksikan sendiri seorang teman sekelas yang selalu tampil mewah ternyata berasal dari keluarga sederhana. Ia datang ke kampus dengan mobil sewaan, mengenakan pakaian dan aksesoris bermerek, dan sering mengajak teman makan di restoran mahal. Suatu hari, saya bertemu ayahnya di pasar tradisional. Baju lusuh, keringat, dan perjuangan memikul karung dagangan menjadi pemandangan nyata yang kontras dengan citra anaknya. Ayahnya dengan bangga namun sedih menceritakan bagaimana ia bekerja keras agar anaknya bisa menikmati pendidikan tanpa kesusahan. Namun ia tak menyangka uangnya digunakan untuk gaya hidup mewah dan bahkan sering dibohongi mengenai penggunaannya.
Peristiwa ini membuka mata saya: banyak mahasiswa terjebak dalam lingkaran kebohongan demi pujian dan pengakuan teman sebaya. Mereka terlalu fokus tampil sukses, hingga mengabaikan perasaan dan pengorbanan orang tua. Bahkan ada yang merasa malu dengan kondisi keluarga sebenarnya dan memilih berpura-pura berasal dari keluarga kaya. Padahal, kebenaran akan selalu terungkap, dan saat itu tiba, rasa malu serta hilangnya kepercayaan orang lain tak terhindarkan.
Salah satu faktor utama munculnya fenomena ini adalah pengaruh media sosial. Instagram, TikTok, dan Facebook menampilkan gaya hidup mewah dan kemewahan yang seringkali tidak sesuai kenyataan. Banyak mahasiswa merasa harus meniru gaya hidup tersebut agar dianggap sukses dan diterima. Ditambah lagi, budaya konsumtif semakin marak di masyarakat. Promosi agresif produk bermerek dan strategi pemasaran membuat banyak orang merasa harus memilikinya untuk bahagia dan dianggap berhasil. Akibatnya, mahasiswa terjebak dalam siklus konsumsi tidak sehat, terkadang hingga membebani orang tua.
Faktor internal mahasiswa sendiri juga berperan. Kurangnya pemahaman tentang nilai uang, kerja keras, dan rasa syukur, serta terbiasa selalu mendapatkan keinginan tanpa usaha, membuat mereka melihat uang sebagai sesuatu yang mudah didapat. Mereka jarang belajar menghargai jerih payah orang lain.
Dampak perilaku ini tak hanya dirasakan orang tua. Mahasiswa yang terbiasa hidup mewah dan boros akan kesulitan mengatur keuangan di dunia kerja nanti. Kebohongan terhadap orang tua dan teman juga merusak hubungan sosial, menimbulkan rasa sakit, kehilangan kepercayaan, bahkan isolasi emosional.
Maka dari itu, perubahan harus dimulai dari berbagai pihak:
- Mahasiswa perlu menyadari bahwa gaya hidup mewah bukan ukuran keberhasilan sejati. Kesuksesan diukur dari kerja keras, prestasi, dan kontribusi positif, sementara kebahagiaan berasal dari rasa syukur dan hubungan harmonis dengan orang lain.
- Orang tua memiliki peran mendidik anak tentang nilai uang, kerja keras, dan rasa syukur. Jangan selalu memanjakan anak tanpa memberi kesempatan mereka belajar berusaha.
- Perguruan tinggi bisa menyelenggarakan seminar manajemen keuangan, menyediakan pekerjaan paruh waktu legal, serta menciptakan lingkungan yang tidak mempromosikan budaya konsumtif dan persaingan tidak sehat.
- Pemerintah perlu meningkatkan kualitas pendidikan sehingga semua anak memiliki akses pendidikan yang layak tanpa biaya tinggi, serta mengatur industri media sosial dan pemasaran agar tidak mempromosikan gaya hidup mewah sebagai satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.
- Masyarakat harus fokus pada hal yang esensial, mendukung mereka yang bekerja keras secara benar, dan tidak terlalu terpengaruh oleh kemewahan semu.
Fenomena gaya hidup mewah mahasiswa yang dibiayai orang tua adalah ironi yang menyakitkan. Tanpa perubahan, generasi muda akan tumbuh dengan pola pikir keliru tentang keberhasilan dan kebahagiaan, serta kehilangan rasa syukur terhadap pengorbanan orang tua. Dengan sinergi antara mahasiswa, orang tua, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, kita bisa membentuk generasi yang lebih bertanggung jawab, hemat, dan bersyukur.
- Penulis: Irenius Putra


Saat ini belum ada komentar