Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Janji Manis yang Cepat Basi: Menanti Pembangunan di Ujung Desa

Janji Manis yang Cepat Basi: Menanti Pembangunan di Ujung Desa

  • account_circle Irenius Putra
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 53
  • comment 0 komentar

Oleh: Velsinal Yerin

Setiap musim pemilihan tiba, janji tentang jalan mulus selalu menjadi komoditas politik yang paling laku dijual. Kandidat datang membawa harapan baru: pembangunan, pemerataan, dan akses yang lebih baik bagi masyarakat desa. Namun bagi warga di pelosok negeri, janji-janji tersebut sering kali terasa seperti makanan yang cepat basi—manis di awal, tetapi berubah menjadi kekecewaan ketika masa jabatan berjalan.

Di tengah gemerlap pembangunan jalan tol yang membelah kota-kota besar, nasib jalan desa masih kerap dianaktirkan. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas warga justru berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan dan hamparan debu ketika kemarau datang.

Negara Hadir Saat Kampanye, Amnesia Setelah Pemilu

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perbaikan jalan desa kerap hanya menjadi komoditas politik lima tahunan. Aspal sering kali turun tepat saat musim pilkada atau pemilu tiba. Namun setelah suara diraup dan kursi kekuasaan berhasil diduduki, janji perbaikan jalan perlahan menguap bersama debu yang beterbangan di jalan-jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki.

Polanya hampir selalu sama. Saat kampanye, para kandidat datang menelusuri jalan berlubang sambil berjanji akan memperbaikinya dalam waktu singkat jika terpilih. Tetapi setelah kekuasaan diraih, berbagai alasan klasik mulai bermunculan: keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD), realokasi anggaran untuk program lain, hingga persoalan status jalan yang dianggap bukan kewenangan pemerintah daerah, melainkan milik provinsi atau bahkan pemerintah pusat.

Bagi masyarakat desa, birokrasi seperti ini terasa jauh dari realitas keseharian mereka. Yang mereka lihat bukanlah perdebatan kewenangan, melainkan jalan rusak yang setiap hari harus mereka lalui.

Mengapa Perbaikan Terasa Begitu Lambat?

Secara teknis, pemerintah memang menghadapi berbagai tantangan nyata. Kenaikan harga material, kondisi cuaca ekstrem, hingga proses pembebasan lahan sering kali menjadi hambatan dalam pembangunan infrastruktur. Namun bagi warga desa yang setiap hari harus membawa hasil bumi melewati jalan berlubang dan berlumpur, alasan-alasan teknis tersebut kerap terasa seperti pembenaran atas lambatnya prioritas pembangunan.

Padahal, pemerintah sebenarnya telah mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan desa. Dalam beberapa tahun terakhir, dana untuk pembangunan dan pemberdayaan desa terus meningkat, bahkan mencapai puluhan triliun rupiah dalam rencana anggaran nasional. Sayangnya, implementasi di lapangan sering kali tersendat oleh birokrasi yang berbelit, perencanaan yang kurang matang, serta pengawasan proyek yang lemah.

Ketika aspal tak kunjung tiba, warga di berbagai daerah akhirnya memilih memperbaiki jalan secara swadaya. Mereka mengumpulkan uang, membeli batu, atau menimbun lubang dengan material seadanya. Inisiatif ini memang menunjukkan semangat gotong royong masyarakat desa, tetapi sekaligus menjadi tamparan keras bagi pemerintah yang gagal memenuhi janji pembangunan.

Jalan Desa Bukan Infrastruktur Kelas Dua

Infrastruktur bukanlah hadiah dari politisi, melainkan hak dasar warga negara. Jalan desa bukan sekadar akses transportasi, tetapi juga jalur kehidupan: tempat hasil pertanian diangkut, anak-anak berangkat sekolah, dan warga memperoleh layanan kesehatan.

Jika pemerintah benar-benar ingin membangun dari pinggiran—seperti yang sering digaungkan dalam berbagai pidato pembangunan—maka jalan desa harus ditempatkan sebagai prioritas yang setara dengan proyek-proyek besar di kota. Pembangunan tidak boleh hanya terlihat megah di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus terasa nyata di ujung-ujung desa.

Jangan biarkan harapan masyarakat desa terus membusuk bersama janji-janji yang tak pernah terealisasi. Karena bagi mereka, jalan yang layak bukan sekadar soal aspal—melainkan tentang keadilan pembangunan yang selama ini terlalu lama tertunda.

  • Penulis: Irenius Putra

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Upah Layak bagi Tenaga Honorer: Investasi untuk Masa Depan Indonesia

    Upah Layak bagi Tenaga Honorer: Investasi untuk Masa Depan Indonesia

    • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
    • account_circle Irenius Putra
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Oleh: Petronela Yeni Handani  (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng) Tenaga honorer merupakan pilar penting dalam denyut pembangunan Indonesia. Mereka hadir mengisi ruang-ruang krusial di sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga usaha mikro dan kecil. Namun ironisnya, jutaan tenaga honorer hingga kini masih diperlakukan sebagai pekerja “sekadar cukup”—menjalankan beban kerja setara pegawai […]

  • Polemik Sebidang Tanah Disekitaran TPA Warloka: Mantan Kades dan Keluarga Lani Disoroti, Pihak Pembeli Desak Penegakan Hukum

    Polemik Sebidang Tanah Disekitaran TPA Warloka: Mantan Kades dan Keluarga Lani Disoroti, Pihak Pembeli Desak Penegakan Hukum

    • calendar_month Rab, 19 Nov 2025
    • account_circle Dion Damba
    • visibility 395
    • 0Komentar

    MANGGARAI BARAT, KOMPASFLORES.COM – Polemik sebidang tanah di sekitar kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Warloka kembali mengemuka dan menyeret dua figur yang kini berada di pusat perhatian publik: mantan Kepala Desa Abdola dan keluarga Lani. Di tengah silang klaim yang saling bertentangan, seorang warga bernama Ninong Agustinus Thay memecah kebisuan dengan membeberkan kronologi yang selama […]

  • Indonesia Timur: Anak Diberi Makan, Guru Butuh Perhatian

    Indonesia Timur: Anak Diberi Makan, Guru Butuh Perhatian

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • account_circle Irenius Putra
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Oleh: Maria Droste Erin Intan  Program “MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG)” digagas sebagai langkah besar untuk memperbaiki sumber daya manusia di Indonesia. Gagasan dasarnya cukup penting yaitu: anak-anak yang sehat dan gizi cukup akan lebih siap belajar. kebijakan ini juga perlu diapresiasi, ini salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap anak-anak bangsa. Di Indonesia bagian Timur memang […]

  • Aktivis LP-KPK NTT Desak APH Periksa PPK dan Kontraktor Terkait Dugaan Penyimpangan Proyek Irigasi Wae Necak

    Aktivis LP-KPK NTT Desak APH Periksa PPK dan Kontraktor Terkait Dugaan Penyimpangan Proyek Irigasi Wae Necak

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • account_circle Dion Damba
    • visibility 566
    • 0Komentar

    Borong, Kompasflores.com – Stefanus Woket, aktivis Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) Nusa Tenggara Timur (NTT), mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk segera memeriksa Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan kontraktor pelaksana proyek pembangunan jaringan irigasi Wae Necak di Kabupaten Manggarai Timur. Proyek tersebut diduga kuat dikerjakan tidak sesuai dengan spesifikasi dan petunjuk teknis. “Saya […]

  • Korban Terus Berjatuhan, Aktivis GMNI Desak Pemda Tetapkan KLB Rabies di Manggarai Timur

    Korban Terus Berjatuhan, Aktivis GMNI Desak Pemda Tetapkan KLB Rabies di Manggarai Timur

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle Arjuna Putra
    • visibility 327
    • 0Komentar

    MANGGARAI TIMUR, KOMPASFLORES.COM – Kasus rabies di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kian mengkhawatirkan. Korban terus berjatuhan, namun hingga kini Pemerintah Daerah dinilai belum mengambil langkah konkret dan terukur yang pasti untuk menanggulangi wabah tersebut. Desakan GMNI: Tetapkan Status KLB Rabies. Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) NTT, Alvino Latu, menilai pemerintah daerah […]

  • Pustu Desa Ruis Rusak Parah, Warga Terpaksa Dirujuk ke Reo: Pemerintah Dinilai Tutup Mata

    Pustu Desa Ruis Rusak Parah, Warga Terpaksa Dirujuk ke Reo: Pemerintah Dinilai Tutup Mata

    • calendar_month Sen, 29 Des 2025
    • account_circle Dion Damba
    • visibility 676
    • 0Komentar

    MANGGARAI, KOMPASFLORES.COM — Kondisi Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Ruis, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, kini memprihatinkan. Bangunan yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat itu dilaporkan sudah rusak parah dan tidak lagi layak digunakan. Pantauan di lokasi menunjukkan atap bangunan berlubang dan nyaris roboh, plafon rusak, serta sejumlah bagian bangunan terlihat rapuh. Situasi ini […]

expand_less